Ibadah yang Afdhal

Wajib bagi seorang yang ingin menempuh jalan menuju Allah untuk berdzikir dengan kekuatan sempurna


Ibadah yang afdhal (yakni paling utama) menurut kesepakatan para ahli ma‘rifah adalah berdzikir menyebut lafazh “Allah”. Karena itu, napas-napas yang keluar-ma­suk dari diri kita harus senantiasa dijaga, agar selalu disertai lafazh “Allah”.

Masalah ini dikemukakan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam sebuah kitab karyanya, Hidayah Al-Adzkiya’. Marilah kita menyimak apa yang beliau kata­kan disertai dengan penjelasan lebih lanjut yang diberikan oleh pen­syarah, K.H. Saifuddin Amsir.

Syekh Zainuddin Al-Malibari mengatakan: “Telah bersepakat sebagian besar ahli ma‘rifat, bahwa ibadah-ibadah ka­rena Allah yang Maha Luhur yang paling utama adalah menjaga napas-napas, keadaan keluarnya dan masuknya, dengan menyebut lafazh “Allah” di te­ngah orang maupun sendirian“.

Dengan mentasydidkan lafazh “Allah”, kemudian memanjangkannya, dari bawah kemudian ke atas dalam mensifati Allah dengan perantara, maka sempurnakanlah“.

Bait-bait ini dikutip oleh penyusun dari Syekh Abdullah bin Abi Bakar Al-Aydrus ~semoga Allah meridhai mereka semua~ yakni, “Telah sepakat sebagian besar ahli ma`rifat bahwasanya ketaatan yang paling utama adalah menjaga napas-napas”. Yaitu, keluar dan masuk­nya napas adalah dengan ucapan “Allah”, baik bersama jama’ah maupun sendirian. Karena hal itu merupakan pembuka keghaiban, penarik kebaikan, penghibur orang-orang yang kesepian dan penghimpun segala yang bersera­kan dari yang melakukannya.


Apabila orang yang dzikir telah di­kuasai oleh rasa cinta terhadap Nama yang didzikirkan, keadaannya sedemiki­an rupa, sehingga salah seorang pelaku dzikir pernah kejatuhan sebongkah batu, lalu darah menetes ke tanah, dan tertulis kalimat “Allah, Allah”. Demikian yang di­tuturkan oleh Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya`rani.

Wajib bagi seorang murid (orang yang ingin menempuh jalan Allah) untuk berdzikir dengan kekuatan sempurna, yang tidak tersisa ruang dalam hatinya bagi selain Allah. Apabila seorang murid melakukan dzikir kepada Tuhannya dengan kuat dan mantap, niscaya ia meraih maqam-maqam jalan menuju Allah S.w.t dengan cepat, tidak lambat. Terkadang dalam sesaat ia dapat me­nempuh maqam-maqam yang orang selainnya harus menempuhnya dalam masa sebulan, bahkan lebih.

Dalil mengenai hal itu adalah firman Allah Ta‘ala yang artinya, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi….”. (QS Al-Baqarah: 74). Maka sebagaimana batu tidak bisa pecah kecuali dengan kekuat­an, demikian pula berdzikir tidak akan ber­pengaruh dalam rangka menyatukan hati pelakunya yang bercerai-berai ke­cuali dengan kekuatan. Demikian kete­rangan dari Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya`rani de­ngan mengutip keterangan dari sejum­lah ulama.

Perkataan pengarang di atas dapat dibaca dengan dua kemungkinan (cara). Yang pertama shiftan lah dan kata sebelum­nya harus dibaca dengan tanwin, faw­qun. Bisa juga dibaca dengan shifah lahu dan kata sebelumnya tidak dibaca dengan tanwin, fawqu.

Jika dibaca dengan kemungkinan pertama, maknanya adalah hadirkan sosok gurumu dalam berdzikir, agar ia dapat menjadi teman perjalanan menuju Allah Ta‘ala, dan ini merupakan adab terpenting. Maka pengertian ucapan pengarang adalah: “Dzikirlah dengan lidahmu akan ucapan “Allah” dengan murni karena Allah Ta‘ala, disertai menghadirkan gurumu di hatimu“.

Se­dang­kan jika dibaca dengan kemung­kinan kedua, maknanya adalah: “Sesung­guhnya tata cara dalam berdzikir itu (terkhusus pada dzikir lafazh “Allah“, ini) harus dilakukan bersama seorang guru“, maka pelaku dzikir tidak boleh melam­paui kepada dzikir yang lain selain dari yang telah ditalqinkan oleh gurunya kepadanya, kecuali se-izin gurunya, dan tidak pula pindah kepada wirid-wirid yang dikhususkan dengan thariqah gurunya.
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻋﻠﻢ ﺑﺎﻟﺼﻮﺍﺏ

~ Syekh Zainuddin Al-Malibari - Hidayah Al-Adzkiya’ ~

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Previous
Next Post »

2 Komentar

Write Komentar
08 March, 2016 delete

Bgm dg yg tdk punya guru cara talqinnya?

Reply
avatar
10 March, 2016 delete

tanpa guru tentunya talqin tak dapat terjadi, maka sebaiknyalah dalam bimbingan seorang Syekh (guru), yakni mencari Syekh

adapun berdzikir tanpa guru, tentunya boleh saja, namun ketika itu dilakukan hindarkanlah dari membayangkan sesuatu semisal wajah, tangan, jari jemari, atau apa saja yang dapat membahayakan aqidah yang berdzikir. Sedangkan dengan membayangkan guru yang mentalqinkan maka demikian menjadi 'pengaman' akal fikiran dari membentuk sesuatu terhadap apa yang dizikirkannya.

demikian akhi, semoga jawaban ini dapat difahami, untuk bertanya lebih jelasnya, kami sarankan dengan para ahlinya melalui link berikut:
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/

Reply
avatar