Cinta Kepada Keluarga Nabi S.A.W

"Cinta kepada keluarga Nabi S.a.w adalah kewajiban dalam agama. Tidak sempurna agama seseorang jika tidak dikaitkan kecintaannya kepada Nabi Muhammad S.a.w, keluarganya dan para sahabatnya"

Ahlul Bait Nabi Muhammad S.a.w adalah orang yang paling dekat dengan Beliau, yang secara khusus dicintai, dihormati, dan dipeliharanya. Allah S.w.t memuliakan mereka dan secara khusus dijaga agar tetap suci dan dijauhkan dari kekejian. Sebagaimana firman Allah S.w.t:

”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”. (QS al-Ahzab: 33).

Telah sama kita maklumi, Rasulullah adalah Nabi dan Rasul Allah kepada seluruh manusia. Keberadaan Beliau S.a.w merupakan rahmat bagi alam semesta. Ayat Al-Qur'an secara tegas menyatakan hal tersebut:

“Dan kami tidak mengutus engkau (wahai Nabi Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”. (QS Al-Anbiya’: 108).

Beliau S.a.w juga Rasul yang paling dicintai oleh Allah S.w.t dan diberi gelar Al-Habib Al-A`zham (Kekasih Yang Teragung). Kecintaan Allah S.w.t kepada Beliau S.a.w telah dibuktikan dari pujian_Nya atas akhlaq Beliau yang begitu agung dan luhur. Dalam ayat lain dikatakan, ”Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”. (QS Al-Qalam: 4).

Tak ada yang mengingkari betapa besar jasa yang telah diberikan oleh Rasulullah S.a.w kepada umat manusia bahkan kepada alam semesta. Dengan risalah yang Allah perintahkan untuk disampaikannya, Beliau S.a.w telah menunjukkan jalan yang lurus, telah mengalihkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Beliau S.a.w telah berjasa membawa umat manusia untuk mengenal Allah S.w.t, Pencipta mereka.

Melalui Beliaulah kita mengenal Allah, mengenal apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilarang Allah S.w.t. Melalui Beliau pula kita mengetahui bagaimana cara-cara mendekatkan diri kepada-Nya. Bahkan, bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari dalam segala segi. Makanya kita tidak akan sanggup menghitung jasa-jasa Nabi S.a.w yang sangat besar bagi umat manusia.

Sekarang, apa balasan yang patut diberikan kepada Beliau S.a.w atas jasa-jasa yang telah diperbuatnya dalam menyampaikan risalah? Allah S.w.t berfirman:

قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

“Katakanlah Wahai Muhammad: Aku tidak minta balasan apapun atas risalah yang aku sampaikan pada kalian kecuali kecintaan kalian terhadap keluargaku.”. (QS asy-Syuura: 23).

Ayat ini menjelaskan bahwa satu-satunya balasan setimpal yang harus dipersembahkan kepada Rasulullah S.a.w atas jasa-jasa Beliau yang begitu besar dalam penyampaian risalah Allah S.w.t, adalah kecintaan terhadap keluarga Beliau S.a.w. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kecintaan kepada mereka (ahli keluarga Nabi) adalah kewajiban dari Ilahi sebagai balasan umat atas risalah yang telah disampaikan oleh Beliau S.a.w.

Allah menjadikan kecintaan pada Ahlul Bait adalah jalan menuju kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan kata lain, barangsiapa yang ingin berjalan menuju Allah S.w.t hendaklah melalui kecintaan terhadap Rasul S.a.w dan keluarganya, karena mereka adalah manusia-manusia yang terdidik di dalam naungan wahyu dan risalah.

Ahlul Bait dalam bahasa, Ahlu artinya ahli, penghuni, keluarga, famili atau penduduk. Sedang Bait artinya rumah. Jadi ahlul bait adalah penghuni atau keluarga rumah. Dalam tradisi Islam, alhul bait artinya keluarga atau sanak famili Rasulullah S.a.w yang memiliki tali kekeluargaan dengan Beliau.

Banyak terjadi perbedaan penafsiran, ada yang menafsirkan ahlul bait itu adalah lima keluarga Nabi S.a.w yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan Beliau yaitu Sayyidina Ali, Fatimah, Hasan, Husen dan Beliau sendiri. Ada lagi yang menafsirkan ahlul bait adalah keluarga Nabi S.a.w dalam arti luas, meliputi istri-istri dan cucu-cucunya, hingga terkadang ada yang memasukkan mertua-mertua dan menantu-menantunya.

Mereka yang menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah anggota keluarga Nabi S.a.w yang dalam hadits disebutkan haram menerima zakat, seperti keluarga Ali dan Fatimah beserta putra-putra mereka (Sayyidina Hasan dan Husain) serta keturunan mereka. Juga keluarga Sayyidina Abbas bin Abdul-Muththalib, serta keluarga-keluarga Sayyidina Ja’far dan Aqil yang bersama Ali merupakan putra-putra Abu Thalib.


Adapun hadits yang terkuat dalam hal yang bersangkutan denga alhul Bait adalah hadits atsaqalain yang disebut dibawah ini:

”Kutinggalkan di tengah kalian dua peninggalanku: Kitabullah, sebagai tali yang terbentang dari langit sampai ke bumi, dan Keturunanku.. Ahlul baitku. Dua-duanya itu sungguh tidak akan terpisah hingga saat kembali kepadaku di haudh (telaga di surga).”.

Pekembangan Ahlul Bait tidak bisa dibendung walaupun sepanjang sejarah kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mengalami penindasan luar biasa, tapi mereka tetap berkambang dan didapatkan di mana saja di seluruh dunia. Ini berkat karena doa Rasulallah S.a.w kepada Siti Fatimah putri Beliau dan Sayyidina Ali K.w di saat pernikahan mereka yang sangat sederhana.

Doa Nabi Muhammad S.a.w adalah, ”Semoga Allah memberkahi kalian berdua, memberkahi apa yang ada pada kalian berdua, membuat kalian berbahagia dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang banyak dan baik”.

~ Al Habib Hasan Husen Assagaf ~
http://hasanassaggaf.wordpress.com



Baca juga:
Sayyidatina Fathimah Az-Zahra - Wasilah Dzuriyah Nabi S.A.W
Keluarga Rasulullah S.A.W
Sayyid Muhammad Ibn Alawi Al Maliki Al Hasani
Previous
Next Post »

1 Komentar:

Write Komentar
20 March, 2015 delete

ALHAMDULILLAH...ALLAHUMMA SHALLI ALA MUHAMMAD WALAA ALIHI WASABBIHI WASALLUM

Reply
avatar