Tablig dan Ta’lim - Kasih Sayang Ulama Terhadap Ummat

Tablig dan ta’lim itu berbeda. Kalau ta’lim itu ada intensitas. Sebab ada sir antara murid dan syeikh.

Murid belajar shalat dan lainnya menunjukan rasa butuh. Mengajar anak orang lain sebaiknya harus ada ijin dari orang tuanya. Saya pernah mengajar seorang anak, tapi orang tuanya tidak menitipkan anak tersebut, saya tanya anak itu orang tuanya masih ada, kalau masih ada saya minta orang tuanya datang.

Kalau tidak ada penyerahan dari orang tua, jika anak itu didik dengan sedikit keras, maka berita yang akan sampai pada orang tua berbeda. Jika tidak demikian mungkin terjadi ada ustad atau kiai dimarahi orang tua muridnya.

Berbeda dengan ta’lim, tablig tidak harus intens. Misalnya setelah Rasulullah S.a.w berdakwah ke satu tempat, Rasulullah S.a.w kemudian menempatkan sahabat sebaagai mualim, yang mengajarkan al-Quran dan permasalahan agama di tempat tersebut. Oleh sebab itu balag atau tablig adalah salah satu sifat Rasul selain amanah, fathanah, sidih dan tablig.  

Modal balag adalah azizun alaihi ma anittum; merasa berat dengan derita yang dirasakan umat, harishun alaikum; memperhatikan kaum berima, bilmukminina raufurahim; mempunyai belas kasih terhadap orang beriman. Rasulullah S.a.w tidak pernah memandang yang didakwahinya dengan kebencian, tetapi dengan pandangan kasih sayang, kelembutan. Yandzuru ilaihim bi ain al-ruhama, bi ain luthafa. Oleh sebab itu mubalig kita seharusnya mempunyai sifat itu terlebih dahulu, agar dakwahnya tidak mudah di kompori, atau malah menyebar kebencian.

Akhirnya dakwah menjadi mata pencaharian, mengundang dakwah harus pakai EO (Event Organizer), amplop 25 juta, hotel bintang padahal yang ngundang orang kampung. Masyarakat dikampung-kampung yang mata pencahariannya bertani makan satu hari satu kali saja susah. Dengan dakwah seperti itu jangan disalahkan kalau di pedesaan sudah dimasuki oleh Wahabi.

Paman saya, Habib Yahya bin Hasyim bin Yahya. Berdakwah akan tetapi buah tangan setelah beliau berdakwahnya tidak pernah sampai kerumah. Beliau waktu itu mempunyai mesin jahit, kuli jahit upahnya perbaju 15 rupiah.

Banyak yang mengkritik saya, ketika diundang untuk dakwah sering telat ini dan itu. Padahal saya mempunyai metode sendiri. Tujuannya agar kiai setempat bisa berdakwah terlebih dahulu. Jangan sampai dai yang datang dari jauh lambat laun malah menjatuhkan wibawa kiai setempat.

Dai itu seharusnya mengangkat kiai, ustadz setempat, kiai sepuh kita puji karena telah membimbing masyarakat. Kalau ustadz muda kita ajak ngobrol, besarkan hatinya, dan tekankan bahwa kedatangan saya hanya sebentar dan yang meneruskan dan menjaga maju mundurnya kampung ini adalah tugas yang muda-muda. Ini disebut balag, bukan ta’lim. Balag membutuhkan metode.

Tidak ada tangan lempeng bayangane bengkong. tidak ada tangan yang lurus tapi bayangannya bengkok. Kalau tujuan mengajarnya sudah salah, seperti tujuannya mendapatkan status jadi jangan salah kalau murid-muridnya tidak berhasil. Oknum tentara, oknum polisi ada pensiunnya yang bahaya adalah oknum kiai, bahayanya sampai bungkuk tetap bahaya. Intelektual itu pola pikir bukan titelnya. Titel sejatinya untuk menunjukan saling membutuhkan, insinyur pertanian tidak menguasai teknik, insinyur teknin tidak menguasai arsitektur dst. Jadi manusia sepandai apapun tetap saling membutuhkan. Bukan untuk berbangga-bangga.

Demikian diantara yang disampaikan Maulana Habib Luthfi bin Yahya pada pengajian Ramadhan hari ke-9.

Previous
Next Post »