Menerapkan Al Qur’an dan Sunnah Dengan Merujuk Ulama

"Orang yang merasa bahwa dirinya mengetahui syariat langsung dari Al Qur'an dan Sunnah tanpa merujuk pada penjelasan penjabaran para Imam-imam besar, ia orang yang salah dan menyesatkan"

Kiai atau ulama kita berpegang teguh pada al-Qur'an dan Sunnah. Beliau semua menerapkan keduanya tanpa meninggalkan konteksnya, yaitu kebudayaan lokal. Tidak mengamalkan al-Qur'an dan Sunnah secara harfiah. Membuka mesin yangg benar dengan menggunakan kunci-kuncinya, obeng dll. Ada juga yang membuka mesin dengan arit dan palu, yang penting terbuka.

Ulama kita memilih cara pertama, memahami dan menerapkan al-Qur'an-Sunnah dengan perangkatnya "Asal" menerapkan Al Qur'an dan Sunnah seperti membuka baud dengan arit dan palu bukan dengan alat atau cara semestinya. Anak-anak muda mudah sekali "kepincut" dengan slogan "menurut al-Qur'an- hadits", padahal itu semakin menjauhkan dari Islam.

Sebab kembali atau merujuk pada Al Qur'an dan Sunnah tanpa ilmu justru semakin menjauhkan umat dari keduanya. Malah menyesatkan. Contoh yang terjadi saat ini pembantaian yang kita lihat di Syiria, Irak dan negara Islam lainnya. Apakah benar Al Qur'an dan Sunnah Nabi mengajarkan pembantaian?. Contoh lainnya dalam ilmu Tauhid, alih-alih merujuk langsung pada Al Qur'an-hadits malah menjadi faham "mujasimah" (tajsim: Allah berfisik). Faham ini jauh dari ajaran Al Qur'an. Ahlu Sunnah wal Jama'ah menerapkan Al-Qur'an dan Sunnah tanpa memisahkannya dengan konteks, tidak dogmatis. Ulama yang menerapkan Al-Qur'an dan Sunnah tanpa meninggalkan konteks akan moderat. Sebaliknya, orang yang menerapkan keduanya secara harfiah, setback.

Salah satu sarat mutlak merujuk pada Al Qur'an dan Sunnah adalah dengan merujuk pada pendapat para ulama, sebab jaringan transmisi kita melalui beliau-beliau semua. Para ulama sinambung, menyambung secara terus menerus dengan para atba’ tabi’in, tabi’in dan para sahabat Nabi. Para Ulama itulah yang paling memahami atsar sahabat, dan para sahabat yang paling memahami sunnah Nabi.

Sebagai contoh, Sahabat Nabi S.a.w, Sayyidina Abdullah bin Umar mempunyai Murid Imam Nafi’, Imam Nafi mempunyai murid Imam malik, Imam Malik mempunyai murid Imam Syafi’i, Imam Syafi’i mempunyai murid Imam al-Muzni, al-Muzni mempunyai murid Imam Thahawi terus sinambung sampai imam al-Juwaini, Imam Haramain, Imam Gazali sampai Syekh Zaini Dahlan, Syekh Nawawi al-Bantani, KH. Hasyim Asy’ari sampai pada kiai-kiai saat ini.

Jadi bagaimana mungkin kita langsung merujuk pada para Sahabat atau Tabi’in dengan meninggalkan jaringan ini.

Oleh sebab itu, Imam `Ala’udin Ali al-Hanafi (W 796 H) dalam kitabnya al-Ittiba’ mengatakan:

 ومن ظن أنه يعرف الأحكام من الكتاب والسنة بدون معرفة ما قاله هؤلاء الأئمة وأمثالهم فهو غالط مخطئ 

“Orang yang merasa bahwa dirinya mengetahui hukum-hukum (syariat) langsung dari al-Qur'an dan Sunnah, tanpa merujuk pada penjelasan penjabaran para Imam-imam besar itu, ia orang yang salah dan menyesatkan.”.

~ Al Habib Muhammad Luthfi bin Yahya ~
Sumber: www.habiblutfi.net
Previous
Next Post »