Kesaksian Allah S.W.T atas Risalah dan Keistimewaan Nabi Muhammad S.A.W

Allah S.w.t memberikan dasar kepada kita kaum beriman: Al Qur'an dan Sunnah Nabi.  Yang dibawa oleh Jibril A.s,  disebut Al-Qur'an al Adzhim. Kemudian sunnah atau hadits nabi dibagi menjadi dua, ada yang disebut Hadits ada pula yang disebut Hadits Qudsi.

Keduanya banyak dipakai untuk menguatkan kedudukan Al Qur'an al Karim.  Sementara hadits qudsi mempunyai keistimewaan lain, yaitu untuk menunjukan bagaimana hubungan Rasulullah S.a.w dengan Allah S.w.t. Jadi Al-Qur'an maupun hadits qudsi sama-sama menunjukan istimewanya kedudukan Nabi Muhammad S.a.w disisi Allah S.w.t.

Al-Qur'an al Adzhim mempunyai dua fungsi. Pertama fungsinya sebagai dasar-dasar ajaran. Fungsi pertama ini mencakup beberapa hal penting: pertama adalah hukum, masalah perintah, dan lain sebagainya, ini terangkum dalam Fiqh; selanjutnya akidah atau tauhid; kemudian tasawuf dan terakhir sejarah (tarikh). Fungsi kedua Al-Qur'an adalah sebagai dasar dari keyakinan kebenaran Islam. Atau dapat dikatakan juga sebagai syahadah, kesaksian, bukti dari Allah S.w.t atas kebenaran Rasulullah S.a.w atas semua yang dibawanya dan disampaikan olehnya. Serta sebagai bukti istimewanya kedudukan Nabi S.a.w disisi Allah S.w.t. Semisal kesaksian Allah S.w.t bahwa Nabi Muhammad adalah benar-benar Rasul Allah S.w.t.

Kesaksian-kesaksian Allah S.w.t pada Nabi Muhammad diantaranya kesaksian akan sifat, karakter dan fisiknya; “Laqod jaakum Rasulun min anfusikum 'Azizun alaihi ma anittum harishun alaikum bil mu'minina Ro'ufurrohim”. (QS at-Taubat: 128). Allah Ta'ala yang menugaskan Nabi sebagai utusan tidak sekedar memerintah, tetapi juga Allah S.w.t menerangkan  kedudukan yang diperintah. Mulai dari fisiknya, karakternya, pribadinya dan lain sebagainya, sebagaimana tergambar dalam ayat tersebut. Bukan sekedar memerintah seperti kebiasaan kita memerintah.

Allah Ta'ala menguatkan kedudukan yang diperintah, dari segi fisik anatominya sampai disebutkan semua dalam al Qur'an al Adzim. Allah Ta'ala yang menciptakan, menyaksikan, membuktikan kebesaran, keutamaan ciptaan-Nya. Untuk siapa kesaksian Allah S.w.t tersebut? Untuk umat. Supaya dengan mudah umat dapat menerima ajaran-ajaran yang dibawanya. Kita bisa mengatakan; yang  menciptakan saja menyaksikan, mengakui kebesarannya, kalau kita yang termasuk ciptaan-Nya tidak mau menyaksikan kebesaran Nabi Muhammad S.a.w, keterlaluan.

"Laqod jaakum Rasulum min anfusikum", sungguh kami telah mendatangkan kepada kalian manusia, Rasulun, seorang utusan. Utusan yang bagaimana? Allah Ta'ala di sini menekankan dengan mengatakan:"min anfusikum", dari kalian jenis manusia. Bukan manusia biasa, tapi manusia luar biasa. Dibuktikan dengan keluarbiasaan Rasulullah apa? “‘Azizun alaihi ma anittum”, menanggungkan derita umat, yang pertama. kedua “Harisun alaikum”, rasa cinta pada umat. Yang ketiga “bilmuminina Ro’ufurrohim”, rasa kasih sayang pada kaum beriman.

Tiga sifat itu seharusnya dimiliki seorang mubaligh. Keberhasilan seorang mubaligh bergantung sebarapa besar rasa ‘azizun alaihi ma anittum’ dalam dirinya. Sebab, itulah dasar pertama untuk mengajak ke jalan Allah. Mubaligh harus pula membawa misi “Harishun alaikum”, dan tentu saja, “Bil mukminina Roufurrohim”. Bila mubaligh bisa membawa ini, dalam amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukannya, dia tidak akan mendahulukan hawa nafsu.

Perumpamaan 'Bilmukminina Roufurrohim', seperti kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Kerasnya orang tua terhadap anak bukan berarti kebencian, kerasnya orang tua terhadap anak bukan berarti kekejaman, kerasnya orang tua terhadap anak walaupun tampak luarnya (atau lahirnya) kelihatan keras tapi penuh arti kasih sayang.

Seperti anak kecil yang digandeng orang tuanya ketika menyebrang jalan, kendaraan hilir mudik tak beraturan, apakah ketika anak lari akan dibiarkan begitu saja?, karena orang tua kesal,  semisal. anak kemudian ditarik oleh orang tuanya dengan keras. Karena apa? Kalau kamu lari, pasti tertabrak mobil atau paling tidak tertabrak sepeda. Tarikan keras yang dilakukan orang tua pada anaknya dalam kondisi seperti itu, bukan karena marah bukan pula karena dendam, tapi karena sayang. Kalau dendam atau marah, sewaktu waktu kesal akan dibiarkan, itu dendam. Akhirnya masa bodoh, mau hidup atau mati terserah. Bukankah begitu?.

Orang tua terhadap anak, tidak ada istilah masa bodoh, karena apa? Karena rasa sayang atau dalam Al-Qur'an disebut sebagai “Bilmu'minina roufurrohim”, ini sifat Rasul S.a.w. Ini tidak dimiliki oleh siapapun secara sempurna (kecuali Beliau S.a.w).

Maka bila kita ‘amar ma'ruf nahi munkar’ prinsip “bilmu'minina roufurrohim”, harus kita pegang betul. Sebab nahi munkar dengan mendahulukan nafsu mana mungkin akan berhasil. Sesaat mungkin orang takut. Seperti kasus minuman keras. Dalam amar ma’ruf atas kasus ini kita selalu menitik beratkan kemunkaran itu hanya pada apa yang diminum, khomr. Lalu kita hancurkan, pabriknya dirobohkan. Apa dengan membrantas minuman keras itu mereka pasti sembuh  atau spontan dengan itu mereka akan  sembuh. Orangnya yang seharusnya anda tuju, bukan justru minuman keras yang anda habisi. Bagaimana kita menyembuhkan si peminum, si pecandu itu? Itulah tugas kita. Kalau kita tidak penuh kasih sayang pada mereka dalam menanganinya,  tidak mungkin mereka akan sembuh. Dan kalau kita mendahulukan hawa nafsu, mana mungkin mereka akan mengerti kalau di sayangi. Ini pula yang banyak menyebabkan dakwah kita tidak berhasil.

Rasulullah S.a.w telah dididik betul sehingga betul-betul memiliki tiga sifat itu. Hal yang demikian membuahkan “wainaka laala Khuluqin ‘adzim”, sungguh engkau Muhammad memiliki pekerti yang sungguh mulia. (QS al-Qalam: 4). Sehingga ayat-ayat: "Azizun alaihii ma anittum”, “harishun alaikum”, “bilmukminina roufurrohim”, (serta) hadits "Umirtu liutamimma makairal akhlak", lebih memperkuat 'Wainnaka laala kulukin adzim', sempurnanya pekerti yang dimiliki oleh Rasulullah S.a.w.

Kesaksian Allah Ta'ala terhadap kerasulan diantarnya adalah “Yasiin. Wal Quranul hakim. Innaka Laminal mursalin”, (QS Yasin: 1-3). Kesaksian itu turun pada saat Rasulullah S.a.w merasakan bagaimana beratnya menundukkan mereka, supaya mereka beriman, bukan beratnya menjadi Rasul. Seperti halnya seseorang yang menjadi polisi, beratnya bukan karena statusnya, tapi bagaimana menyadarkan masyarakat, supaya tidak berbuat kejahatan yang merugikan dirinya, merugikan masyarakat. Tanggung jawab itu, lebih berat dari status yang disandangnya. Itu baru tingkat bawah, kalau Rasul sudah tidak bisa dibuat bandingan.

Kronologi turunnya ayat tersebut (asbab al wurud) bermula pada waktu itu Rasulullah S.a.w memikirkan bagaimana caranya supaya orang-orang kufar jahiliah beriman atas risalah yang dibawa oleh Rasulullah S.a.w. Mayoritas dari mereka lari dan tidak beriman, apalagi sampai mau mengakui risalah Rasulullah S.a.w. Tegas Allah Ta'ala menurunkan ayat: ” Yasiin. Wal Quranul hakim. Innaka Laminal mursalin”, wahai Yasin, demi Al-Qur'an yang mulia. Sungguh engkau sebenar-benarnya utusan. Seakan-akan Allah S.w.t berfirman: 'Andaikata mereka tidak mau mengakui wahai Muhammmad engkau utusan-Ku, Aku yang akan mengakuimu, engkau adalah utusan-Ku. Engkau sebenar-benar utusan’.

Sampai pula turun: "arrahman alamal Quran, kholaqol insana allamahul bayan", siapa yang dimaksud dalam ayat ini? Yaitu Rasulullah S.a.w. Dalam surat al ‘Alaq Allah S.w.t berfirman: "Iqro bismirobbikaladzi kholaq, kholaqo al insana min ‘alaq, iqro warobbuka al akrom" (QS: al ‘Alaq: 1-3), kepada siapa pertama kali ayat ini ditujukan? Pada Rasulullah S.a.w. Dalam surat al Hujurat ayat 13,  Allah S.w.t. Berfirman: "Inna akromakum indallahi atqoqum", sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling taqwa di antara kalian. Siapa yang dimaksud dengan 'al akram wal atqo’ dalam ayat tersebut? (ialah) Rasulullah S.a.w. Kalau kita ditanya siapa yang paling mulia? Kita harus menjawab Rasulullah S.a.w, sebab Beliaulah orang yang paling taqwa.

Oleh sebab itu, kalau ingin menjadi orang yang taqwa, tidak ada cara selain mengikuti (ittiba’) meniru dan mencontoh teladan Sayyidina Muhammad S.a.w, dijamin dia akan termasuk orang yang taqwa.

Dari apa yang telah saya uraikan, kita akan mengakui, mengetahui dan meyakini bahwa Rasulullah S.a.w adalah orang yang istimewa dan seorang manusia yang berbeda dari manusia pada umumnya. Sebab itu pula, kalau ada orang mengatakan atau minta disamakan dengan Rasulullah S.a.w, adalah orang yang menghayal, sama dari mana? dia tidak mendapat penyaksian dari Allah S.w.t. Sementara Rasulullah S.a.w disaksikan akhlak, susunan antominya, susunan fisiknya dan sebagainya. Yang menciptakannya sendiri yang menyaksikan, Allah S.w.t. Bukankah lebih akurat? Dari mana bisa-bisanya kita berani menafsirkan Rasulullah manusia biasa.

Lalu bagaimana dengan ayat; “Qul inama ana basyarum mislukum” (QS: al Kahfi: 110)? Maksud ayat itu, bahwa pesan-pesan kerasulan Nabi Muhammad S.a.w dapat diterima dengan mudah oleh manusia. Karena Rasulullah S.a.w sendiri adalah manusia, itulah maksud ayat Al-Qur'an di atas. Memberi kesadaran pada umat bahwa Allah S.w.t telah mempermudah manusia (litashil al umat) untuk menerima ketentuan-Nya melalui utusan dari golongan manusia pula. Dan itu merupakan salah satu dari sekian rahmat-Nya. Basyar (manusia), dalam ayat itu bukan berarti menyamakan Rasulullah dengan kedudukan manusia biasa, Tidak! “Qul inama ana basyarum mislukum”, kami ini seperti kalian; berbicara, bermata, bertelinga. Manusia, sama-sama manusia, Mistlukum (seperti kalian). Akan tetapi kata ‘mistlukum’ tidak bisa dikatakan berarti sama sekali sama atau persis sama.

Rasul dari kalangan manusia yaitu untuk memudahkan umat. Sebab Seandainya Rasul dari kalangan jin, akan menyulitkan manusia, sebab jin tidak terlihat. Kalaupun terlihat, manusia pasti lari. Sementara malaikat tidak terkena kewajiban: “Qu anfusakum wa ahlikum nara” (QS: at Tahrim), menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Sebab malaikat tidak punya anak serta tidak punya istri. Lalu siapa yang berperan menjadi utusan atau rasul? Jawabannya adalah manusia. Dan manusia yang menjadi rasul itu adalah Nabi Muhammad S.a.w.

Dalam membahas Ahlu Sunah kita jelaskan terlebih dahulu fungsi Al-Qur'an sebagai saksi kerasulan dan keistimewaan Nabi Muhammad S.a.w, supaya kita tahu sumber-sumbernya dahulu. Sehingga kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah S.a.w sebagai sumber utama Ahlu Sunah adalah manusia luar biasa yang karakter, fisik dan perjalanan hidupnya diabadikan dalam Al-Qur'an.

~ Al Habib Muhammad Luthfi bin Yahya ~

sumber: www.habiblutfi.net

Previous
Next Post »